Warnet Hujan
Hujan pertama di Desember selalu sama: sepatu basah di lantai keramik, kipas angin berisik, dan bau kabel panas dari CPU yang sudah dua hari tidak dimatikan. Di warnet Bintang Net, jam digital menunjukkan 16:42 β masih satu jam sebelum tarif malam naik.
Riko mengantre di meja kasir sambil menghitung koin. Di belakangnya, speaker kecil memutar lagu radio yang tertangkap antena rusak. Operator mengetik sesuatu di buku catatan kertas, bukan di komputer. Daftar antrean masih manual: nama, nomor PC, jam mulai.
PC nomor 7 akhirnya kosong. Riko duduk, mouse bergelombang di bawah telapak tangan. Dial-up menyambung β nada telepon berdering seperti lagu pembuka setiap petualangan. Loading bar bergerak pelat. Di forum lokal, seseorang menulis: siapa masih online? hujan deras nih. Lima balasan muncul dalam sepuluh menit. Tidak ada yang mengenal wajah asli satu sama lain, tapi semua tahu siapa yang selalu AFK jam lima.
Itu internet tahun 2004: lambat, berisik, dan lebih hangat karena dibagi dengan orang asing yang duduk dua kursi dari kamu. Riko logout lima menit sebelum waktu habis β kebiasaan anak warnet supaya tidak dimarahi operator. Di luar, hujan reda. Dia menyimpan screenshot desktop dengan resolusi 800×600, bukan untuk dibagikan, tapi supaya suatu hari bisa mengingat bahwa pernah ada ruang seperti ini.